POLITIK ETIS ITU...??


POLITIK ETIS YANG SEBENARNYA
Indonesia adalah salah satu dari sekian banyak negara yang pernah merasakan menjadi jajahan dari bangsa lain. Hal ini disebabkan indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, khususnya rempah-rempah yang pada waktu itu menjadi barang yang dibutuhkan di negara-negara Eropa. Pada mulanya mereka datang ke indonesia hanya untuk berdagang dan mendapatkan rempah-rempah, namun karena mereka melihat indonesia memiliki potensi alam yang besar yang dapat menghasilkan keuntungan maka niat mereka berubah menjadi ingin menguasai.
Bangsa penjajah yang datang pertama kali adalah Portugis yang menginjakkan kakinya di tanah air, tepatnya di Maluku pada tahun 1511 kemudian akhirnya meninggalkan indonesia pada 1576, sedangkan Belanda datang pertama kali ke indonesia lewat pelayaran yang dipimpin oleh Cornelis de houtman pada tahun 1595 dan meninggalkan indonesia 3,5 abad sesudahnya. Dari sela-sela pendudukan Belanda, Inggris menguasai indonesia dari tahun 1811 sampai tahun 1816. Kemudian kekuasaan kembali diserahkan ke Belanda sampai akhirnya indonesia diserahkan pada jepang tahun 1942. Hal ini disebabkan Belanda tak bisa melakukan perlawanan terhadap pasukan jepang yang datang ke indonesia dari berbagai wilayah.
Dari mulai negara Portugis, Belanda, Inggris, dan jepang. Maka Belanda adalah negara yang paling lama pernah menjajah Indonesia. Dalam masa penjajahan yang panjang tersebut negara kita menjadi objek eksploitasi besar-besaran, baik itu yang bersifat sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Eksploitasi tersebut memberi keuntungan bagi negara Belanda dan musibah bagi negara kita. Eksploitasi tersebut seperti monopoli yang dilakukan Belanda terhadap perdagangan rempah-rempah atau hasil bumi lainnya semisal kopi. Serta eksploitasi sumber daya manusia, yang sangat menyengsarakan rakyat indonesia adalah tanam paksa atau cultuur stelsel, yang pada kemudian hari sistem ini menjadi penyebab lahirnya Politik Etis.
       Berbagai penderitaan pada saat itu banyak dialami oleh masyarakat Indonesia, misalnya kejadian-kejadian diberbagai wilayah di Indonesia, seperti di Cirebon pada tahun 1843 banyak penduduk yang meninggalkan daerahnya dengan tujuan untuk menghindari dari kekejaman belanda. Di daerah lain juga telah mengalami beberapa kejadian kelaparan yang sangat memprihatinkan, seperti di daerah Demak dan Grobogan yang mengakibatkan kematian secara besar-besaran. Sementara itu pada umumnya rakyat di negeri Belanda banyak yang tidak tahu atas kekejaman di daerah tanah jajahannya yang diakibatkan oleh Tanam Paksa, sebaliknya Tanam Paksa telah meningkatkan kemakmuran rakyat di negeri Belanda, sebab banyak  mendapat keuntungan yang sangat melimpah dari penyelenggaraan politik Tanam Paksa, sementara akibat dari pelaksanaan politik tersebut masyarakat pribumi (Masyarakat Indonesia) menjadi semakin menderita.
       Keadaan seperti ini mulai berubah setelah tahun 1850, dimana rakyat Belanda memperoleh berita mengenai kejadian yang sebenarnya di Indonesia yang ditimbulkan oleh Tanam Paksa. Kesewenang-wenangan  dari para pegawai pemerintah kolonial Belanda, kejadian di daerah Cirebon, Demak, dan Grobogan, lambat laun sampai beritanya di negeri Belanda, sehingga antara tahun 1850-1860 timbul terjadi perdebatan diantara para tokoh di negeri Belanda yang peduli terhadap nasib bangsa Indonesia akibat dari kebijakan Tanam Paksa.
       Reaksi yang timbul akibat dari adanya berbagai tulisan kaum humaniter mulai mencapai tarap yang menentukan, seperti diadakannya peninjauan kembali mengenai aturan-aturan dalam sistem Tanam Paksa. Adapun yang tergolong kepada kelompok kaum humaniter  diantaranya seperti : Walter Baron Van Hoevel, Fransen Van De Futte, juga seorang Perdana Menteri Torbeck tampil ke depan untuk membela kepentingan bangsa Indonesia. Pada saat itu tokoh yang dianggap paling berhasil merubah opini rakyat Belanda dengan sebuah karya tulisannya adalah “Douwes Dekker” dengan nama samarannya “Multatuli”. Yang berhasil menulis sebuah karya buku yang berjudul “Max Havelaar”
       Dalam situasi seperti itu , muncul pula tulisan  “Van Deventer” yang berjudul “Een Eereschuld” (Hutang Kehormatan) pada  majalah “de Gids” tahun 1899. Ia mengecam pemerintah kolonial Belanda yang tidak memperhatikan nasib penduduk tanah jajahannya. Ia mengungkapkan, bahwa pemerintah Belanda telah berhutang budi kepada rakyat tanah jajahan (Indonesia) serta harus ditebus dengan cara memberikan kesejahteraan. Usul Van Deventer tersebut mendapat dukungan dari rekan-rekan kaum liberal, seperti Van Kol, Van Dedem, dan Brooschooft.

       Ratu Belanda menanggapi positif terhadap usulan yang disampaikan kaum liberal. Dalam pidatonya tahun 1901, Ratu Belanda mengesahkan politik yang sangat terkenal dengan sebutan “Politik Etis”. Politik ini merupakan upaya balas budi pemerintah Belanda untuk memperhatikan nasib bangsa Indonesia. Menurut Van Deventer, politik Etis yang ditujukan untuk memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia dapat dilakukan melalui tiga hal, sehingga disebut Trilogi Van Deventer, yang isinya sebagai berikut :
1.Irigasi                                                                                                               2.Transmigrasi                                                                                       
3.Edukasi
Dan mari kita cermati satu persatu dari Trilogi Van Deventer tersebut;
  1. Irigasi (Pengairan) dan Infrastruktur
merupakan program pembangunan dan penyempurnaan sosial dan prasarana untuk kesejahteraan terutama dibidang pertanian dan perkebuna, serta perbaikan prasarana infrastruktur. Disini masyarakat pribumi di beri pengetahuan teknologi dalam bidang pengairan yang lebih modern, untuk mendapatkan hasil pertanian yang lebih baik, tanpa menunggu lama seperti sebelumnya yang hanya mengandalkan musim hujan saja untuk menghasilkkan pertanian yang baik, tetapi dengan adanya Irigasi yang di ajarkan oleh Belanda, masyarakat pribumi dapat bercocok tanam pada musim kemarau juga.
2.      Educate (pendidikan)
Merupakan program peningkatan mutu SDM dan pengurangan jumlah buta huruf yang implikas  baiknya untuk pemerintah Belanda, yaitu dengan pendirian sekolah-sekolah. Karena pelajar yang berkualitas dapat di jadikan pegawai oleh pemerintah Belanda. Itu salah satu tujuan Belanda melakukan Politik Etis untuk menggalih potensi masyarakat pribumi.



3.      Emigrasi (transmigrasi)
Merupakan program pemerataan pendidikan Jawa dan Madura dengan dibuatnya pemukiman di Sumatra Utara dan Selatan dimana dibuka perkebunan-perkebunan baru yang membutuhkan banyak sekali pengelola dan pegawainya, Akan tetapi kebijakan pertama dan kedua disalah gunakan untuk pemerintah Belanda dengan membanggun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi, hanya pendidikan yang membawa dampak positif bagi Indonesia. selain untuk pemerantaan
penduduk, tujuan Belanda adalah membuka lahan pertanian yang baru, dengan cara memindahkan penduduk dari daerah padat Penduduk ke daerah yang penduduknya jarang, untuk membuka lahan pertanian baru.
Bahasa belanda dimasukan sebagai pelajaran di beberapa Sekolah Kelas Satu dan sejumlah kursus di buka dengan maksud itu, akan tetapi bahasa Belanda tak kunjung menjadi bahasa rakyat. Orang Belanda sendiri tampaknya keberatan untuk memberikan bahasa dan kebudayaan Belanda, sebagian hanya untuk merusak adat istiadat Indonesia, akan tetapi Belanda sangat takut jika orang-orang Indonesia menguasai kebudayan, pengetahuan, teknik, dan organisasi. Dengan itu Belanda mendirikan lembaga pendidikan untuk mengatasi menjamurnya pendidikan pesanteren.
Akan tetapi, seperti sebelumnya pada system tanam paksa yang didasari oleh niat untuk mengeksploitasi Indonesia, lagi dan lagi system politik etis pun dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh para pegawai Belanda. Berikut ini penyimpangan penyimpangan tersebut:
1.      Irigasi
Pengairan hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.

2.      Edukasi
Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang dibuka untuk seluruh rakyat, hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang mampu. Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada anak-anak pribumi dan pada umumnya. Politik pendidikan kolonial erat hubungan dengan politik mereka pada umumnya, sesuatu politik yang di dominasi oleh golongan-golongan yang berkuasa dan tidak di dorong oleh nilai-nilai etnis dengan maksud untuk membina kematangan  politik dan kemerdekaan tanah jajahan. Berhubungan dengan sikap itu kita dapat kita lihat sejumlah cirri pltik dan praktis pendidikan yaitu:
a.       Gradualisme yang luar biasa dalam menyediakan pendidikan bagi anak-anak Indonesia.
b.      Dualisme dalam pendidikan dengan menekankan perbedaan yang tajam antara pendidikan  Belanda dan pendidikan pribumi.
c.       Control sentral yang kuat
d.      Keterbatasan tujuan sekolah pribumi, dan peranan sekolah untuk menghasilkan pegawai sebagai factor penting dalam perkembangan pendidikan
e.       Prinsip konkordasi yang menyebabkan maka sekolah di Indonesia sama dengan di negeri Belanda.
f.       Tidak adanya perencanaan pendidikan yang sistematis utuk pendidikan anak pribumi.
Pendirian sekolah oleh pemerintahan kolonial Belanda, bertujuan memecah belah pribumi Islam, sejak kanak-kanak. Dari bangaunan sekolah dan kurikulum antara anak Indonesia dan bangsawan serta prioritas lainya di beda-bedakan. Sekaligus putra putrid bangsawan Muslim dan putra putrid yang Islam, namun mendapatkan proritas sekolah di sekolah Eropa. Dengan dicampurnya di sekolah Eropa, anak bangsawan dan sultan menjadi jauh dari pengauh pembinaan ulama
3.      Migrasi
Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, khususnya di Deli, Suriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke Lampung mempunyai tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk mencegah agar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan Poenale Sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya.
Lagi dan lagi, terus menerus tidak ada satu pun yang kiat baik system yang diberlakukan para penjajah untuk negeri ini. Mereka hanya ingin menguasai kekayaan kita, mempekerjakan kita secara paksa, merampas harta benda rakyat kita hingga hamper tak ada lagi setetes air kehidupan bagi bangsa ini. Kita telah lama menjadi boneka mainan belanda guna memenuhi semua kebutuhannya. Hal ini juga yang menyebabkan mental Indonesia saat ini lembek hanya mampu diperintah dan diperintah. Tugas kita kini untuk mengubah doktrin belanda dan memperbaiki mental bangsa dengan dimulai dari diri kita. Kecil memang namun ada dan berarti.



bangga... bangga... Indonesia!!!


Bangga Menjadi Indonesia
Bangga menjadi Indonesia dapat kita definisikan sebagai karakter dan prinsip yang harus digenggam oleh segenap bangsa Indonesia. “Karakter” kata sederhana namun penuh makna. Selama ini kita masih belum paham apa makna kata karakter itu sendiri. Definisi karakter sendiri adalah kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi akhlak budi seseorang. Lalu bagaimana dengan prinsip? Prinsip adalah suatu pedoman dan komitmen seseorang dalam proses kehidupan. Dengan demikian maka, bangga menjadi Indonesia harus kita jadikan sebagai pedoman dan komitmen dalam hidup secara berkelanjutan menjadi akhlak budi kita sebagai bangsa Indonesia.
Seperti yang kita ketahui, bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sumber daya alam hayati maupun non-hayati. Pulau- pulau yang berjajar dari sabang sampai merauke dengan berpuluh-puluh juta penduduk dari suku bangsa dan agama yang berbeda-beda namun tetap hidup dalam keharmonisan yang terjalin antara satu dengan yang lainnya. Hal ini menjadikan bangsa Indonesia adalah bangsa yang mencerminkan semboyan Negara kesatuan republik Indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda- beda namun tetap satu jua.
Apakah kita sudah bangga menjadi Indonesia? Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan, di jawab, dan direnungkan oleh diri kita. Jika jawabannya tidak maka, terimalah bahwa Indonesia layak dibanggakan, jika sudah maka, tingkatkan dan ajak saudara-saudara kita untuk bangga menjadi Indonesia juga, apalah arti jika maju sendiri.
Coba kita tengok keadaan bangsa kita saat ini. Semuanya telah terkikis oleh derasnya ombak globalisasi yang semakin hari semakin merajalela. Bangsa indonesia berada pada masa kekurangan prinsip, kehilangan karakter, kehilangan jati diri. Karakter dan prinsip “bangga menjadi Indonesia” yang telah ditanamkan para pahlawan ketika membela dan memerdekakan  bangsa ini selama berabad-abad dengan penuh perjuangan dan bersatu melawan para penjajah rupanya telah hilang ditelan globalisasi kebarat-baratan. Bangsa kita bangga dengan Negara lain. Bangsa kita memuji dan memuja serta mendewekan kelebihan Negara lain, menghina, mencemooh, dan menfitnah Negara sendiri. Melihat dengan sebelah mata tanpa melihat sosok (baca:kelebihan) dari Negara kita sendiri. Sebenarnya kita ini bangsa siapa? Kita ini mau maju atau tidak? Ini pertanyaan kedua.  Pahlawan kita dulu bangga menjadi Indonesia sehingga mereka mampu bersatu dan mencapai pernyataan merdeka.
Merdeka itu bukan harga murah seperti semudah beli cabe dipasar. Mencemooh, menghina, hingga berkata “aku bukan bangsa Indonesia” adalah kejahatan, kekejaman, dan kenistaan suatu bangsa yang mensia-siakan perjuangan pendahulu kita yang telah bermandikan darah perjuangan, tangis kecintaan indonesia, dan cucuran keringat kobaran semangat kemerdekaan. Mengoreksi kelemahan bangsa sendiri tidaklah salah. Ini benar dan harus jika ingin menjadi bangsa yang maju. Yang salah itu ketika kita mengetahui kelemahannya lalu mencemoohnya dan menghina pihak yang terlibat dengan masalah kelemahan tersebut. Padahal kita bangsanya sendiri.
Apakah kita sudah bangga menjadi Indonesia? Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan, di jawab, dan direnungkan oleh diri kita. Jika jawabannya tidak maka, terimalah bahwa Indonesia layak dibanggakan, jika sudah maka, tingkatkan dan ajak saudara-saudara kita untuk bangga menjadi Indonesia juga, apalah arti jika maju sendiri.
Coba tengok sejenak keadaan bangsa Indonesia saat ini. Bangsa indonesia saat ini pada masa kekurangan prinsip, kehilangan karakter, kehilangan jati diri. Bangsa kita bangga dengan Negara lain. Bangsa kita memuji dan memuja serta mendewekan kelebihan Negara lain, menghina, mencemooh, dan menfitnah Negara sendiri. Melihat dengan sebelah mata tanpa melihat sosok (baca:kelebihan) dari Negara kita sendiri. Sebenarnya kita ini bangsa siapa? Kita ini mau maju atau tidak? Ini pertanyaan kedua.
Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa mencintai dan bangga menjadi warga negara Indonesia merupakan salah satu langkah yang paling penting dan kita butuhkan untuk menjadikan bangsa ini maju seperti Negara lain setara Jepang dan Cina atau bahkan lebih, yang mana mereka pun maju karena rasa kebanggan terhadap Negara mereka sangat lah tinggi. Kebanggan rakyat Jepang terbukti dari budaya mereka yang terus terjaga, tidak terpengaruh budaya-budaya lain, menjalankan hukum, disiplin, menaati peraturan dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Mereka sangat percaya bahwa perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri.
Dan lain halnya dengan Cina bangsa mereka sangat mencintai produk dalam negeri dan terus selalu berusaha menciptakan produk yang luar biasa bukan mencari kecanggihan dari Negara lain. Kita bukan harus bangga kepada Negara lain yang maju tetapi kita harus mencari apa yang menyebabkan mereka maju dan menerapkannya.
Pemuda-pemudi  jangan menunggu orang lain untuk merubah negeri ini, tapi mulailah dari kita sendiri. mengeluh dan mengkritik dalam forum tidak tentu membawa perubahan apa-apa, jika setelah mengkritik kita masih membuang sampah sembarangan, melanggar peraturan, sering terlambat dan lain-lain. Kitalah yang seharusnya merubah bangsa ini, bukan orang lain. Bahwa kita harus memulai dari diri sendiri, lihatlah ada banyak perubahan baik yang terjadi di sekeliling kita. Jadi berbanggalah, sadarilah bahwa perubahan itu ada. Akuilah bahwa bangsa ini sudah berjalan kearah yang lebih baik, walaupun perubahan itu tidak besar, tapi perubahan itu ada. Siapakah yang kita keluhkan? Bangsa siapa yang kita kritik? Dengan saling mengeluh, dan mengkritik masalah bangsa ini tidak akan terpecahkan. Dengan hanya melihat kekurangan tidak membuat bangsa ini kuat dan berkembang.

Yakinlah, dibalik keruwetan dan kemacetan jalan, ada rancangan jalan layang untuk kemudahan yang sedang di programkan, dibalik banjir kesedihan di ibu kota, ada program-program sanitasi hebat yang sedang dicanangkan di belakang para pejabat yang korup masih banyak penegak  hukum yang bekerja keras untuk memberantas mereka, disela-sela kemiskinan ada tangan-tangan dermawan yang mengangsurkan makanan dan pelatihan bakat serta ketrampilan bagi para pengangguran. Bangsa ini sedang bangkit, dan bergeraklah bersama para penggerak untuk memajukan bangsa ini. Mungkin perubahan itu kecil, tapi ada dan berarti. Mulailah mencintai dan bangga pada tanah surga ini, di sini kita di lahirkan dan di sini pula hari tua kita habiskan. Kemerdekaan itu bukan harga murah yang bisa sembarangan kita kritik dan kita keluhkan, kemerdekaan itu harga mati. Bangkit dan bangunlah pemuda! Kita ini bangsa besar! Bangsa Indonesia.





biodata diri


Nama lengkap Phadma nila. Di rumah dipanggil Nila, dan di asrama dipanggil Noah. Lahir di Samarinda tanggal 9 November 1996 di rumah sakit umum A. Wahab Syahrani Samarinda dengan cara normal oleh seorang ibu bernma Murni dan dengan doa seorang bapak yang bernama Kariyono. Saya dilahirkan dari keluarga yang cukup bahagia. Saya memiliki kedua orang tua yang begitu menyayangi saya dan sabar membimbing saya tidak hanya itu, saya juga memiliki satu kakak dan satu adik yang menemani hari-hari pencarian jati diri saya.
Dari semasa SD hingga SMA saya, semangat untuk bersekolah, menuntut ilmu, menghadapi tantangan, berkompetisi dalam hal prestasi , dan untuk selalu menggoreskn tinta pada  lembaran cerita hidup dengan sejuta pengalaman tidak pernah pudar alhasil Sejak SD hingga SMP saya mendapatkan juara 1 setiap semesternya dan mengikuti berbagai perlombaan. Saya bersekolah di SDN 008 Sempaja, Samarinda dan SMP di SMP Negeri 13 Samarinda. Saya bangga sekolah di sekolah tersebut. Setelah lulus SMP saya mencoba mendaftar di 3 sekolah yaitu, SMA Negeri 1 Samarinda, SMA Negeri 2 Samarinda, dan SMA Negeri 10 Samarinda melalui jalur undangan dan ketiganya diterima, dan saya menjatuhkan pilihan kepada SMAN 10 Samarinda, karena SMAN 10 Samarinda adalah sekolah boarding school dan binaan Provinsi Kalimantan Timur. dan setiap peserta didik yang dinyatakan diterima mendapatkan beasiswa  penuh dari provinsi, mulai dari biaya hidup di asrama, biaya sekolah, bimbingan, ekskul, dan dalam hal perlombaan pun dibimbing dan didanain oleh provinsi. Bangga dan senang tidak terkira menyelimuti senyum semangat belajar di sekolah saya saat ini, tujuan utamanya adalah meringankan beban orang tua saya. ,dalam hal melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya saya berniat di bidang Engineering amin.
Di SMA progress prestasi saya dapat dikatakan meningkat. Fasilitas di sekolah saya ini sangatlah menunjang kebutuhan peserta didiknya. Prestasi saya awali dengan lomba LCC UUD 45 juara 1 tingkat kota, lomba LCC Pemilu juara 1 tingkat Kota dan Juara 2 Tingkat Provinsi, lomba esai tentang lingkungan dan tata ruang kota juara 1 provinsi, terpilih sebagai anggota Parlemen Remaja 2013, dan terakhir mendapatkan juara 3 Nasional lomba Karya Tulis Ilmiah dengan tema budaya sebagai pengembangan pendidikan karakter pemuda Indonesia, dan pada bulan july mendatang akan mengikuti Forum Pelajar Se-ASEAN (YES 2014) di Philipina tepatnya di kota Calapan.
Sebagai seorang yang gemar berinteraksi dengan orang lain dan gemar berdiskusi, saya mengisinya dengan bergabung dalam organisasi di sekolah, organisasi yang saya ikuti yaitu, OSIS periode 2012/2013 dan periode 2013/2014, Bela Negara, Mading Sekolah (Atharavasa), dan PMR. Banyak hal yang saya petik dari keempat organisasi tersebut. Mulai dari mencari solusi, mengadakan berbagai kegiatan, berbeda pendapat dalam rapat, musyawarah besar dan lain sebagainya.
Berbicara mengenai hobi. Saya adalah orang yang hobinya selalu berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan diri saya, sebagai contoh ketika saya akan mengikuti lomba esai mengenai budaya Indonesia maka, seketika saya hobi membaca buku mengenai hal tersebut, jadi ketika itu saya sama sekali tidak tertekan atau terpaksa melakukan hal yang saya butuhkan karena saya menyukainya. dan jika saya sedang aktif dalam hal politik seperti ketika mengikuti lomba yang berhubungan dengan ranah politik maka, saya menyukai hal tersebut dan seterusnya. Namun secara umum hal yang saya gemari adalah membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti perkembangan politik dan mendengarkan lagu. Saya termasuk orang yang senang berinteraksi dengan orang lain dan cenderung tidak bisa berdiam diri dalam waktu yang lama, atau melakukan hal yang monoton tanpa ada perubahan kondisi.
Dalam hidup setiap orang pasti memiliki prinsip dan begitu seharusnya. dan prinsip dalam hidup saya adalah “usaha dan doa adalah kesuksesan” menurut saya yang membedakan tingkat kesuksesan dan keberhasilan manusia itu dilihat dari prosesnya yang meliputi usaha dan doa, lalu mengapa doa? Doa adalah suatu hal yang mampu mendekatkan kita kepada sang pencipta karena, ketika kita dekat dengan sang pencipta maka, langkah kita akan dituntun-Nya. Dan ada tiga point dalam hidup saya sebagai pemuda yang harus berkontribusi kepada bangsa dan Negara,
“ If you stop dreaming you will stop thinking.
  If you stop thinking, you will stop activity.
  If stop activity, you will never get success or anything in your life.”